WARTABANJAR.COM, MARTAPURA – Berakhirnya operasional Posko Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan Sambang Lihum, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, tidak menyurutkan semangat relawan Forest Lestari untuk terus berkontribusi dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla.

Kelompok relawan mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tersebut menyatakan tetap siap apabila sewaktu-waktu dibutuhkan untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Hal itu disampaikan salah satu pembina Forest Lestari, Rina Kanti, saat diwawancarai di Posko Satgas Karhutla kawasan Sambang Lihum, Sabtu (7/11/2026).

Rina mengatakan, meskipun aktivitas posko secara resmi berakhir, semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan harus tetap dijaga.

"Hari ini posko kita dinyatakan bubar. Tapi bukan berarti semangat kita juga bubar. Kita tetap semangat, kebersamaan dan kepedulian kita terhadap lingkungan serta kebakaran akan lebih kita perhatikan," ujarnya.

Menurutnya, upaya pencegahan harus menjadi perhatian bersama agar kebakaran hutan dan lahan tidak kembali terulang. Kesadaran masyarakat dalam mengantisipasi potensi karhutla dinilai sangat penting.

Baca Juga Hairudin Ungkap Detik-detik Api Berkobar Membakar Bangunan di Samping Gedung Wisma Antasari Banjarmasin

Baca Juga Rumah Bandar Sabu 1,8 Kg di HST Dipasangi Garis Polisi, 3 Mobil Diamankan

Ia juga memastikan Forest Lestari tetap siap berpartisipasi apabila ada arahan maupun kejadian yang membutuhkan keterlibatan relawan.

"Tadi sudah kita rundingkan bersama dengan petugas di sini. Kita tetap standby dan kalau ada perintah atau kejadian, kami bersedia dan siap untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut," tambahnya.

Sementara itu, salah seorang anggota Forest Lestari, Ahmad Rasyid Kurnia Hadi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah terlibat dalam kegiatan penanganan karhutla di kawasan tersebut selama kurang lebih satu bulan setengah.

Sebanyak 41 mahasiswa diterjunkan secara bergiliran untuk membantu kegiatan di lapangan, menyesuaikan dengan waktu perkuliahan masing-masing.

Menurut Ahmad, keterlibatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi para mahasiswa, khususnya dalam mempraktikkan ilmu kehutanan secara langsung di lapangan.