WARTABANJAR.COM, SAMARINDA – Sedemikian geramnya terhadap Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas'ud, ratusan mahasiswa bersama sejumlah elemen masyarakat tidak hanya berunjuk rasa di depan gubernuran, Rabu (4/11/2026).

Mereka berhasil masuk ke halaman kantor pemerintahan tersebut. 

Tak hanya berorasi, massa yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Menggugat (Geram) Kaltim itu juga melemparkan sayuran busuk ke area kantor gubernur.

Baca juga: Dua Awak Heli Karhutla Tewas, Satu Hilang dan Lima Dirawat di RS Kuala Pembuang Kalteng

Baca juga: Cara dan Kronologi Eks Kapolri Jenderal Listyo Sigit Sadap Presiden, Politisi dan Jurnalis

Aksi tersebut menjadi simbol kemarahan mahasiswa terhadap pemadaman listrik bergilir yang dikeluhkan masyarakat, serta sejumlah tuntutan demonstrasi sebelumnya yang dinilai belum direalisasikan oleh pemerintah. 

Dalam demonstrasi pada Rabu (21/10/2026) lalu, mahasiswa menyampaikan tujuh tuntutan utama kepada Pemprov Kaltim. 

Di antaranya menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, menindak tegas perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran hutan dan lahan. 

Selain itu menindak tegas perusahaan yang tidak melaksanakan reklamasi pascatambang, menuntaskan persoalan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM)  serta menghentikan pemadaman listrik bergilir. 

Arianto menilai tingkat kekecewaan massa semakin besar karena Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud dan Wakil Gubernur Seno Aji pergi ke Jakarta. 

"Karena gubernur dan wakil gubernur tidak hadir menemui kita. Ini bentuk daripada amarah daripada mahasiswa," katanya. 

Hingga sekitar pukul 20.30 Wita, mahasiswa masih bertahan dan mendesak Rudy Mas'ud menemui mereka untuk mempertanyakan realisasi tuntutan yang sebelumnya disampaikan kepada pemerintah provinsi.

Namun, upaya mediasi yang sempat dilakukan tidak menghasilkan kesepakatan. 

Aparat kemudian menggunakan water cannon untuk memukul mundur massa hingga demonstrasi berakhir. (Wartabanjar.com)