Puting Beliung Terjang Martapura Barat Banjar, Akademisi ULM Minta Standar Bangunan Rumah Warga Ditingkatkan
WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Bencana puting beliung yang menerjang empat desa di Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar, menjadi sinyal kuat kawasan permukiman di Banua masih rentan terhadap ancaman cuaca ekstrem.
Kerentanan tersebut tidak hanya dipicu oleh faktor atmosfer, tetapi juga berkaitan erat dengan ketahanan struktur bangunan rumah warga, dan tingkat kesiapsiagaan masyarakat.
Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sekaligus pengamat tata kota, Dr Eng Akbar Rahman, mengungkapkan fenomena puting beliung umumnya dipicu oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus, akibat ketidakstabilan atmosfer.
”Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama pada masa peralihan musim ketika potensi pertumbuhan awan konvektif cukup tinggi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (31/10/2026) siang.
Dari perspektif arsitektur dan lingkungan binaan, Akbar menjelaskan besarnya tingkat kerusakan bangunan, saat disapu angin kencang sangat ditentukan oleh kualitas konstruksi rumah.
Bagian sambungan antara penutup atap, rangka, hingga struktur utama bangunan menjadi titik vital yang paling menentukan ketahanan rumah.
Baca Juga: Kekeringan di Astambul, BPBD Banjar Salurkan Ribuan Liter Air Bersih
Baca Juga: Permukaan Air Waduk Riam Kanan Banjar Masih Turun Meski Hujan Mulai Guyur Kalsel
”Kawasan permukiman terbuka seperti persawahan, bantaran sungai, dan lapangan juga berpotensi mengalami paparan angin yang lebih besar, karena minimnya hambatan alami,” terangnya.
Oleh karena itu, Akbar menekankan pentingnya langkah mitigasi terpadu. Dalam jangka pendek, pemerintah daerah diminta memprioritaskan pemeriksaan kelayakan rumah terdampak, serta perbaikan konstruksi atap agar lebih kuat dan aman.
”Masyarakat juga diimbau untuk lebih responsif terhadap peringatan dini BMKG, dan segera berlindung di dalam bangunan kokoh saat muncul tanda-tanda angin kencang,” jelasnya.
Sementara untuk jangka panjang, ia mendorong pemerintah daerah agar mulai memetakan kawasan rawan bencana, serta memperkuat edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
”Penerapan konstruksi rumah yang tangguh angin kencang juga perlu didorong, baik melalui forum Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), maupun edukasi kebencanaan di sekolah-sekolah,” ungkapnya.