WARTABANJAR.COM, TANJUNG – Sejumlah lahan persawahan di empat desa di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, mengalami persoalan pengairan.

Saat musim hujan, sebagian lahan terendam, sementara lahan lainnya justru kekurangan air akibat saluran yang belum berfungsi optimal.

Persoalan tersebut dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara DPRD Tabalong dan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait pada Selasa (27/10/2026) lalu.

Empat desa yang menyampaikan keluhan yakni Jirak dan Pampanan di Kecamatan Pugaan, Walangkir di Kecamatan Tanta, serta Madang di Kecamatan Muara Harus.

RDP yang dipimpin Wakil Ketua II DPRD Tabalong Noor Farida itu mengungkapkan, kondisi saluran air yang dinilai belum memadai menghambat aktivitas pertanian masyarakat.

Bahkan, lahan pertanian di Desa Walangkir disebut telah terkendala genangan selama tujuh tahun.

Noor Farida mengatakan, persoalan pengairan di wilayah selatan Tabalong perlu mendapat perhatian pemerintah daerah.

Baca Juga 5 Rumah di Pelaihari Tanah Laut Hangus Terbakar, Diduga Berasal dari Dapur Warga

Baca Juga 3,5 Butir Ekstasi Disita Ditresnarkoba Polda Kalsel di THM Banjarmasin

Ketidakseimbangan aliran air membuat sebagian persawahan kelebihan air, sedangkan lahan lainnya mengalami kekurangan pasokan.

Dijelaskannya, persoalan itu bukan semata-mata berkaitan dengan jaringan irigasi, melainkan juga kondisi saluran air persawahan yang dinilai terlalu dangkal sehingga tidak mampu mengalirkan air secara optimal.

“Kalau musim hujan, ada yang airnya berlebihan dan ada yang kekurangan. Saluran air di persawahan masih dangkal sehingga menyebabkan persawahan terendam,” ujar Noor Farida, Jumat (30/10/2026).

Ia berharap dinas terkait dapat membantu mengatasi persoalan tersebut, terutama di Desa Jirak, Madang, dan Walangkir yang terdampak masalah aliran air.

Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Tabalong, Iwan Romaidi, menjelaskan bahwa pemeliharaan sungai telah dilakukan secara bertahap.

Penanganan dilakukan dari wilayah hulu, mulai dari Pulau Ku'u menuju Walangkir hingga Masintan.

Selanjutnya, Dinas PUPR membangun crossing atau jalur penghubung aliran air di Masintan agar air dapat mengalir menuju Sungai Tabalong.