WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan Selatan mulai berdampak pada penurunan titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Meski demikian, upaya pemadaman masih berlanjut karena sejumlah lokasi masih mengeluarkan asap.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, S.STP, mengatakan status siaga darurat karhutla yang semula berakhir pada 31 Oktober 2026 diperpanjang hingga satu bulan ke depan, yakni 1–30 November 2026.

Baca juga: Tiket Laga Barito Putera vs Persis Solo di Stadion 17 Mei Banjarmasin Sudah Tersedia

Baca juga: Sempat Melarikan Diri, 3 Orang Diamankan dalam Penggerebekan Narkoba di Pandawan HST

Hal itu disampaikannya saat diwawancarai langsung usai upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Selatan, Banjarbaru, Rabu (28/10/2026).

“Alhamdulillah kita mendapatkan rahmat Allah. Artinya hujan turun di wilayah Kalimantan Selatan sangat signifikan dalam menurunkan titik api. Titik api di Kalimantan Selatan sudah turun secara drastis,” ujarnya.

Ronny menjelaskan, perpanjangan status siaga darurat tersebut merupakan hasil musyawarah Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan arahan Gubernur Kalimantan Selatan.

Keputusan itu juga mempertimbangkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan sebagian besar wilayah Kalsel baru memasuki musim hujan secara normal pada dasarian II November atau sekitar 11–20 November 2026.

Sementara itu, sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Kotabaru, diperkirakan baru memasuki musim hujan lebih lambat, bahkan hingga Desember.

Meski titik api berkurang, Ronny menyebut masih terdapat sejumlah lokasi yang perlu mendapat penanganan, terutama di kawasan ring satu Bandara Internasional Syamsudin Noor, tepatnya di wilayah Kurnia, di sisi utara bandara.

“Namun saat ini sudah ditangani oleh kawan-kawan Satgas,” katanya.

Untuk memastikan kondisi di lapangan, BPBD Kalsel bersama petugas terkait terus melakukan pendataan melalui patroli udara dan pemantauan citra satelit. 

Helikopter dan pesawat diterbangkan setiap pagi untuk mengidentifikasi titik api yang benar-benar menyala maupun lokasi yang masih mengeluarkan asap.