Setelah Viral di Medsos, Dua Anak Menteri Haji dan Umrah Mundur sebagai Tenaga Ahli
WARTABANJAR.COM, JAKARTA - Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz mengundurkan diri sebagai tenaga ahli Menteri Haji dan Umrah.
Pengunduran diri ini mereka lakukan setelah jabatannya di kementerian tersebut viral di medsos.
Netizen mempertanyakan jabatan tenaga ahli Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan Jusuf (Gus Irfan).
Gus Irfan adalah ayah dari Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz.
Wakil Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan pengunduran diri tersebut untuk integritas Kemenhaj dan Umrah.
"Hari ini saya, Pak Menteri sudah menerima pengunduran diri dua orang tenaga ahli," kata Dahnil di Kantor Kementerian Haji dan Umrah, Senin (26/10/2026).
Baca Juga: Akhirnya, Banjarmasin Dapat Banpres Karhutla Rp 20 Miliar, Rifqinizamy Minta Rakyat Awasi
Baca Juga: Hujan Mulai Turun, Masih Ada 3.392 Hektare Lahan Terbakar di Kalsel, Kalteng dan Kalbar
Diakui Dahnil, keputusan mundur itu diambil di tengah munculnya pro dan kontra mengenai posisi yang ditempati kedua anak Gus Irfan tersebut.
Ia pun menegaskan, Kementerian haji dan umrah berkomitmen menjaga integritas dan profesionalisme dalam menjalankan tugas kelembagaan.
Pengunduran diri tersebut, menurut dia, juga menjadi bagian dari upaya menjaga komitmen kementerian agar tetap bekerja sesuai dengan prinsip etika.
"Karena ada pro-kontra segala macam, makanya beliau berdua memutuskan untuk mengundurkan diri. Itu juga menjawab komitmen kami di Kementerian Haji dan Umrah untuk memastikan integritas harus tetap terjaga. Itu adalah komitmen Pak Menteri dan komitmen saya," ujar Dahnil.
Menurut dia, Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz ikut membantu sejak lembaga penyelenggara urusan haji tersebut masih bernama Badan Penyelenggara Haji (BP Haji), sebelum menjadi Kementerian Haji dan Umrah.
Keterlibatan keduanya bermula ketika lembaga tersebut masih merintis organisasi dan menghadapi keterbatasan sumber daya manusia.
Dahnil menyebut, pada masa itu tidak banyak orang yang bersedia membantu secara sukarela.
Dalam situasi tersebut, kedua anak Gus Irfan kemudian ikut membantu proses perintisan lembaga.