IDI HST dan PERDOSNI Banjarmasin Soroti Kasus Stroke Kalsel, RSHD Barabai Siapkan Terapi Trombolisis
WARTABANJAR.COM, BARABAI – Angka kejadian stroke di Kalimantan Selatan disebut berada di atas rata-rata nasional. Kondisi ini menjadi perhatian kalangan medis, termasuk Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Hulu Sungai Tengah (HST) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI) Cabang Banjarmasin.
Salah satu upaya yang disoroti adalah peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gejala stroke dan pentingnya mendapatkan pertolongan medis sesegera mungkin.
Terlebih, RSUD H Damanhuri Barabai telah menyediakan layanan terapi trombolisis untuk pasien stroke akut yang memenuhi kriteria medis.
Ketua IDI Cabang HST, dr. H. Imam Syahuri Gultom, mengatakan edukasi mengenai stroke perlu diperluas agar masyarakat memahami gejala, langkah pencegahan, serta fasilitas penanganan yang tersedia di daerah.
“Kami ingin mengajak masyarakat mengenali gejala stroke, memahami cara pencegahannya, sekaligus mengetahui bahwa di RSUD H Damanhuri Barabai sudah tersedia fasilitas untuk penanganan stroke akut dengan terapi trombolisis,” ujar dr. Imam.
Baca Juga Jadwal Pemadaman Listrik di Banjarbaru Sampai Jam 11 Malam
Baca Juga Kualitas Udara Batola dan HSS Masuk Kategori Berbahaya, Banjarmasin Sangat Tidak Sehat
Terapi trombolisis merupakan pengobatan menggunakan obat untuk membantu melarutkan bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah otak.
Terapi ini hanya dapat diberikan kepada pasien yang memenuhi persyaratan medis.
“Kalau pasien mengalami gejala stroke, jangan menunda untuk datang ke rumah sakit. Pada pasien yang memenuhi syarat, terapi trombolisis dapat diberikan dalam jendela waktu tertentu, umumnya hingga 4,5 jam sejak gejala muncul. Karena itu, kecepatan membawa pasien untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sangat penting,” katanya.
Menurut Ketua PERDOSNI Cabang Banjarmasin, dr. H. Pagan Pambudi, M.Si., Sp.N (K), data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menunjukkan angka stroke di Kalimantan Selatan berada di atas 13 per 1.000 penduduk, sedangkan rata-rata nasional disebut sekitar 10,1 per 1.000 penduduk.
Ia mengingatkan, keterlambatan membawa pasien ke rumah sakit dapat memengaruhi kondisi dan peluang pemulihan.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menunggu gejala membaik dengan sendirinya sebelum mencari pertolongan.