WARTABANJAR.COM - Wakil Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Adriaan Palm melaksanakan kunjungan kerja ke Rumah Dinas Gubernur Kalsel, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (5/10/2026). 

Kedatangan Adriaan Palm disambut langsung Gubernur Kalimantan Selatan H Muhidin guna membahas sejumlah peluang kerja sama antara Kalsel dan Belanda.

Dalam pertemuan tersebut Adriaan Palm menanyakan kondisi masyarakat Kalsel, termasuk aktivitas dan pekerjaan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. 

“Kita jawab bahwa kita ini ada petani, ada pegawai, ada pekerja. Artinya merata,” ujar Muhidin.

Salah satu peluang kerja sama yang dibahas adalah pengelolaan infrastruktur pengendali banjir atau Riam Kiwa. 

Muhidin mengatakan, pembangunan infrastruktur tersebut telah mendapat dukungan anggaran dari pemerintah pusat, termasuk proses pembebasan lahan.

Pemprov Kalsel juga mengharapkan dukungan Belanda dalam hal desain kawasan setelah pembangunan selesai, khususnya agar lahan di sekitar saluran dapat dikembangkan menjadi kawasan pertanian dan persawahan.

Baca Juga Gubernur Kalsel Lantik 141 Kepala Sekolah, Sebagian Pindah Tugas

Baca Juga Kebakaran 3 Rumah di Limpasu HST Diduga Akibat Korsleting Listrik, Kerugian Capai Rp185 Juta

Menurut Muhidin, meskipun produksi beras Kalsel saat ini surplus, peningkatan produksi tetap penting agar dapat membantu memenuhi kebutuhan daerah lain.

Selain itu, Muhidin menyampaikan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pengelolaan kawasan gambut. 

Ia menyebut Indonesia sebelumnya telah mendapatkan bantuan water bombing dari Belanda untuk mendukung penanganan karhutla.

Menurut Muhidin, pengelolaan gambut di Kalsel memiliki tantangan tersendiri karena sebagian kawasan telah dimanfaatkan masyarakat. 

Karena itu, diperlukan desain pengelolaan yang tepat agar kawasan gambut tetap dapat dimanfaatkan tanpa meningkatkan risiko kebakaran meluas. 

“Yang jelas kita saat ini mungkin bagaimana desain gambut itu supaya jangan terbakar secara meluas,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, Muhidin juga mengangkat persoalan sejumlah aset dan benda bersejarah asal Kalimantan Selatan yang berada di Belanda. 

Ia menyebut di antaranya benda pusaka dan koleksi intan yang memiliki nilai sejarah bagi Kalsel.