Enam Hari di Laut Jawa, Relawan Borneo Rescue Ceritakan Evakuasi Korban Kapal Virgo
Sementara ketika membantu proses evakuasi korban dari perahu karet menuju rescue zone dan kapal, mereka menggunakan alat pelindung diri (APD).
“Untuk evakuasi dengan korban dari perahu karet ke rescue zone untuk ke kapal harus ber-APD, sarung tangan, masker, kacamata. Itu untuk melindungi diri kami sendiri,” jelasnya.
Ricky bertugas pada bagian yang menjadi salah satu mata rantai, setelah korban dikeluarkan dari bangkai kapal oleh penyelam.
Dalam operasi tersebut, proses evakuasi terbagi dalam beberapa tim. Korban yang berhasil dikeluarkan penyelam terlebih dahulu dibawa menggunakan perahu karet.
Dari perahu karet, korban kemudian dipindahkan ke KN SAR Pacitan, sebelum selanjutnya diteruskan menggunakan helikopter.
“Dari penyelam ditarik keluar, masuk ke perahu karet. Perahu karet digeser lagi, di-transfer ke KN SAR Pacitan. Baru di-transfer lagi ke heli,” ungkap Ricky.
Selama berada di laut, KN SAR Pacitan juga tidak terus bergerak. Kapal lebih banyak berada di titik pencarian dengan cara berjangkar. Namun, kondisi laut membuat posisi kapal tidak selalu tetap.
“Tapi kadang ombaknya besar, jadi geser jangkarnya. Jadi pagi itu geser lagi ke titik nol lagi,” ujar Ricky.
Pengalaman berbeda dirasakan Muhammad Badruszaman. Jika Ricky lebih banyak berada dalam rantai evakuasi dari rescue zone hingga kapal, Badrus bertugas lebih dekat dengan proses penerimaan korban karena dia berada di atas perahu karet.
Bagi Badrus, masuk dalam operasi tersebut juga sempat menimbulkan kegelisahan. Sama seperti Ricky, ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti operasi SAR laut.
“Karena ini pertama kali, kayak ada sedikit gelisah. Tapi dibilangin sama kawan-kawan Basarnas, enggak apa-apa, nanti diajarin. Jadi percaya diri saja,” katanya.
Keyakinan itu kemudian membawanya masuk ke salah satu bagian paling dekat dengan proses evakuasi.
Ketika penyelam berhasil mengeluarkan korban dari bangkai kapal, tim perahu karet bertugas mendatangi dan mengambil korban tersebut.
“Tugas kami mengambil korbannya. Dari bungkus sampai mengangkutnya,” ujar Badrus.