WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Seorang guru honorer SD Tanjung Pagar 3 Jalan Gerilya, Banjarmasin, meninggal di saat kabut asap pekat menyelimuti langit Kota Seribu Sungai ini.

Sebelum meninggal pada Minggu (27/9/2026) malam, guru SD bernama Lisna ini sempat mengeluh asmanya kambuh.

Karena itu pula ia sempat meminta izin kepada kepala SD tempatnya bekerja, Zainal Abidin Asmari untuk tidak bekerja.

Terlebih SD Tanjung Pagar 3 berada di kawasan perbatasan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar yang hampir tiap hari diselimuti kabut pekat.

Murid-murid di sekolah tersebut selama ini menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Sementara tenaga pengajar tetap datang ke sekolah. 

Baca Juga: Amel Urung Kuliah di Unibraw, Siswi SMAN 1 Banjarmasin Meninggal karena Dumptruck Masuk Kota

Baca Juga: Wali Kota Banjarmasin Usulkan Bangun Embung Kapasitas 1,1 Juta Meter Kubik, Atasi Pasokan Air

Kepada pers, Rabu (21/9/2026), Zainal Abidin Asmari mengatakan Lisna sejak 21 September 2026 telah mendapat izin absen karena tebalnya kabut asap di kawasan sekolah.

Ia juga mengungkapkan kondisi Lisna pada Sabtu bahkan Minggu sore, sehat-sehat saja,

"Malam hari kami terima kabar telah meninggal, padahal sorenya sehat dan tidak ada masalah," ungkap Zainal.

Meski tidak memastikan meninggalnya Lisna karena asmanya kambuh sebagai dampak terpapar kabut asap, ia mengharapkan penanganan terhadap Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) bisa lebih cepat.

"Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga para guru, khususnya mereka yang memiliki gangguan pernapasan,” ucapnya.

Berdasar catatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalsel, selama dua bulan terakhir terjadi peningkatan kunjungan di puskesmas, layanan praktik swasta hingga instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit.

Ketua Bidang Pengabdian dan Hubungan Masyarakat IDI Wilayah Kalsel, dr Erna Kusumawardhani mengatakan, peningkatan tersebut antara lain terlihat pada eksaserbasi atau kekambuhan penyakit saluran pernapasan.

Kasus yang dilaporkan meningkat didominasi serangan asma dan eksaserbasi penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Selain itu, beberapa kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga disebut meningkat.