“Mungkin yang pejabat mengatakan bahwa ini normal, perlu dipertanyakan kenormalan pikirannya. Karena ternyata Kalimantan Selatan sangat-sangat tidak normal,” tegasnya.

Dalam aksi tersebut, Virdian mengapresiasi gerakan mahasiswa yang menyuarakan sejumlah persoalan di Kalsel.

Ia menilai gerakan mahasiswa tersebut menunjukkan anak muda masih memilih bersuara atas persoalan yang terjadi.

“Bagus. Ini adalah bentuk bahwa ternyata orang-orang muda di Indonesia tidak pernah memilih diam,” ujarnya.

Menurut Virdian, keresahan anak muda terhadap persoalan lingkungan juga terlihat di sejumlah daerah lain. 

Ia menyebut kondisi serupa terjadi di Aceh, Papua, dan Kalimantan yang menurutnya berkaitan dengan persoalan bencana ekologis.

“Jadi teman-teman muda Kalimantan ini sangat bagus, menyusul gerakan teman-teman muda lainnya di berbagai daerah. Harus dilanjutkan,” katanya.

Kepada mahasiswa, Virdian berpesan agar persoalan kebencanaan ekologis tidak dianggap sebagai isu kelompok tertentu. 

Menurutnya, dampak yang ditimbulkan dapat dirasakan siapa saja tanpa melihat latar belakang masyarakat.

“Pesan yang pertama adalah untuk mengatakan bahwa hari ini kalau kita memilih diam, sama dengan kita semua memilih jadi korban berikutnya,” pesannya.

Ia mencontohkan asap yang tidak mengenal pilihan politik, maupun pekerjaan seseorang. Karena itu, lanjutnya, perjuangan terhadap persoalan lingkungan merupakan kepentingan bersama.

“Karena yang namanya asap itu tidak memilih dia pendukung 01, 02, atau 03. Dia tidak memilih ini orang kerjanya di perusahaan, kerjanya serabutan, kerjanya ojol, mahasiswa, dia nggak memilih,” tegasnya.

Virdian menegaskan, masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan lingkungan yang lebih layak, termasuk udara bersih dan air yang layak.

“Ketika memperjuangkan isu kebencanaan ekologis ini, ini isu semua warga negara Indonesia. Dan ini hak kita untuk dapat udara yang lebih bersih, air yang lebih layak, kehidupan lebih layak,” tutupnya. (wartabanjar.com)