Yuddy mengatakan, keputusan evakuasi keluar rumah sakit masih melihat perkembangan titik api. Jika api dapat dikendalikan, evakuasi lanjutan tidak diperlukan.

“Kalau titik api sudah mulai bisa kita kendalikan dan sudah terkendali, mungkin tidak perlu evakuasi lagi,” katanya.

RSJ Sambang Lihum berdiri di atas lahan sekitar 20 hektare. Sekitar 6 hektare telah digunakan untuk bangunan fasilitas rumah sakit, sedangkan 14 hektare lainnya masih berupa kawasan hutan.

Luasnya lahan membuat titik api tersebar di beberapa lokasi. Salah satu area yang cukup luas terbakar diperkirakan mencapai sekitar 2 hektare.

“Hampir semua, cuma titik apinya tersebar. Untuk area yang agak besar kemarin mungkin sekitar 2 hektare. Kalau dibiarkan, api akan berpindah terus dan dikhawatirkan menjalar ke bangunan rumah sakit,” ungkap Yuddy.

Untuk mengantisipasi api kembali mendekati bangunan, pihak rumah sakit berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan dan BPBD. Pembersihan area hutan di sekitar rumah sakit, menjadi salah satu langkah yang disiapkan.

Rumah sakit juga berencana membuat beberapa sumur gali sebagai sumber air tambahan, untuk membantu penanganan jika kebakaran kembali terjadi.

“Harapannya, pertama mencegah penyebaran kebakaran. Kedua, kami bisa membangun beberapa sumur gali, yang tujuannya menyediakan air jika terjadi lagi kebakaran di lahan yang ada,” jelasnya.

Titik api disebut mulai muncul sejak Jumat. Penanganan kemudian dilakukan bersama sejumlah unsur, mulai dari BNPB, TNI, BPBD, Dinas Kehutanan, hingga Dinas Sosial.

Di lapangan, personel Korem bersama Yon TP 925 dan Yon 828 juga dikerahkan, untuk memadamkan api di sekitar Jalan Sambang Lihum dan bagian belakang RSJ Sambang Lihum. Tiga unit mobil turut digunakan untuk mempercepat pemadaman.

Hingga Selasa sore, asap masih sempat masuk ke kawasan rumah sakit. Namun, titik api mulai dapat dikendalikan, sehingga untuk sementara pasien belum perlu dievakuasi keluar dari kompleks rumah sakit. (Wartabanjar.com)