WARTABANJAR.COM, BARABAI – Setelah bertahun-tahun tidak bisa menggarap sawah akibat banjir, petani di Desa Kayu Rabah, Kecamatan Pandawan, Hulu Sungai Tengah (HST), kembali menanam padi pada 2026.

Namun ketika lahan kembali bisa ditanami, persoalan lain muncul. 

Sejak Juli, petani di kawasan tersebut menghadapi kekeringan yang membuat pertumbuhan tanaman padi menjadi lebih lambat.

Persoalan ini juga dihadapi petani di sejumlah kawasan lain di HST bahkan Kalsel.

Hardimansyah, anggota kelompok tani di Handil 6, mengatakan lahan yang digarapnya sekitar 13 borongan.

Padi ditanamnya bertahap sejak akhir Juli hingga akhir Agustus.

Baca juga: Jalan Usaha Tani Penghubung Tanah Habang-Layuh HST Diperbaiki, Akses Petani Lebih Mudah

Baca juga: HKTI Kalsel Diminta Ikut Tangani Karhutla, Juga Bantu Warga Terdampak

Menurutnya, kondisi tanaman belum sampai membuat padi layu, namun pertumbuhannya terhambat karena keterbatasan air.

“Jelasnya ngalih tumbuh. Mun layu kada, cuma lambat hijaunya itu nah,” ujar Hardimansyah saat ditemui wartabanjar.com di sawahnya, Minggu (20/9/2026).

Kekeringan terlihat dari permukaan tanah yang retak. 

Saluran air atau sungai yang biasanya menjadi sumber pengairan juga tidak lagi memiliki cukup air untuk dialirkan ke lahan pertanian.

Tanaman padi yang sudah ditanam pun tampak tidak sehijau kondisi tanaman yang mendapat pasokan air cukup. 

Pertumbuhannya terlihat lebih lambat di tengah kondisi lahan yang minim air.

Untuk memenuhi kebutuhan air, petani sementara mengandalkan pompa milik pribadi. 

Belum ada bantuan pompa yang diterima untuk mengatasi kekeringan di lahan tersebut.

Kondisi ini cukup berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya. 

Hardimansyah menuturkan, masyarakat Kayu Rabah sempat tidak dapat bertani di kawasan tersebut karena air dari bagian hulu meluap dan menyebabkan banjir.

Pada 2018 hingga 2019, aktivitas tanam masih berjalan normal. 

Namun sejak 2020 sampai 2025, lahan tidak dapat dimanfaatkan untuk bertani karena kondisi banjir.

Baru pada 2026, masyarakat kembali menggarap sawah masing-masing setelah adanya dukungan melalui program CSR. 

Kesempatan untuk kembali bertani itu kini dihadapkan pada persoalan kekurangan air.