Petani Padi Kayu Rabah HST Hadapi Kekeringan Setelah Bertahun-tahun Kebanjiran
“Dulu kami kebanjiran. Terakhir tanam di sini tahun 2018-2019, normal tanam di sini. Nah, lalu di 2020 sampai 2025 kami kada bisa tanam di sini karena air di hulu meluap, lalu banjir di sini,” tuturnya.
Setelah kembali bisa bertani, Hardimansyah berharap persoalan kekeringan dapat segera ditangani sehingga tanaman yang sudah ditanam tidak terganggu hingga masa panen.
Ia mengatakan, tanaman yang ditanam pada akhir Juli hingga Agustus diperkirakan mulai memasuki masa panen sekitar November sampai Desember.
“Harapan kami untuk pompa secepatnya dikabulkan. Sebabnya kami yang di sini ada perencanaan untuk tanam tugal. Tanam tugal itu mengharapkan pompa dan air yang banyak,” katanya.
Selain kebutuhan air, petani juga masih menghadapi persoalan akses menuju lahan.
Salah satunya kondisi jembatan yang diharapkan dapat diperbaiki agar alat dan mesin pertanian (alsintan), termasuk combine harvester, bisa masuk ke kawasan persawahan.
Menurut Hardimansyah, keberadaan alat tersebut penting ketika memasuki masa panen. Jika hanya mengandalkan tenaga manual dengan arit, proses panen dikhawatirkan akan lebih berat bagi petani.
“Selain pompa air, ada lagi seperti jembatan supaya alat alsintan bisa masuk ke lahan ini. Terutamanya untuk combine, bisa untuk panen hasil pertanian,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah kabupaten maupun provinsi dapat membantu memperbaiki akses tersebut. Dengan begitu, petani tidak hanya mendapat kemudahan dalam memenuhi kebutuhan air, tetapi juga dapat menggunakan alsintan ketika memasuki masa panen. (wartabanjar.com)