Menurut Endarto, kawasan yang masih hijau harus menjadi perhatian serius karena memiliki luasan yang cukup besar. Jika kembali terbakar, maka potensi perluasan kebakaran akan semakin sulit dikendalikan.

Selain pemadaman dan pembasahan, pengaturan aliran air juga menjadi tantangan tersendiri di lapangan. Sumber air utama yang dimanfaatkan tim berasal dari embung di sekitar kawasan.

“Memang kita harus mengatur aliran air karena sumber airnya berasal dari embung. Posisi elevasi di beberapa wilayah lebih tinggi sehingga aliran air harus diatur agar sesuai dengan kebutuhan di titik-titik pemadaman,” terangnya.

Untuk mendukung pengaturan tersebut, tim melakukan pemompaan dan penyekatan pada sejumlah aliran air agar distribusi air dapat diarahkan ke kawasan yang membutuhkan. Embung juga dimanfaatkan untuk mengalirkan air menuju wilayah Tegal Arum.

Di sisi lain, keberadaan embung juga menjadi sumber air bagi operasi water bombing menggunakan helikopter. Karena itu, pengaturan debit dan aliran air harus dilakukan secara cermat agar kebutuhan pemadaman dari darat maupun udara tetap terpenuhi.

“Kalau air ini tidak diatur, alirannya akan cepat turun ke wilayah yang tidak kita inginkan. Karena itu dibantu dengan pemompaan dan dilakukan penyekatan di beberapa bagian supaya aliran air sesuai dengan yang kita harapkan,” ujarnya.

Kondisi medan juga menjadi kendala dalam proses pemadaman.

Endarto menyebut, sejumlah titik memiliki akses yang cukup sulit,  membutuhkan selang dan peralatan pemadam dalam jumlah panjang untuk menjangkau lokasi kebakaran.

Selain itu, angin yang cukup kencang di kawasan tersebut turut meningkatkan risiko penyebaran api.

“Angin di sini cukup kencang. Ini memicu pergerakan api sehingga potensi meluasnya titik api semakin besar,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, tim terus melakukan pembasahan secara blok pada kawasan yang rawan terbakar.

Tim juga melakukan normalisasi kanal-kanal untuk memperlancar aliran air yang dibutuhkan dalam proses pemadaman dan pembasahan.