Ketika opsi Pirlo gugur, Maldini kemudian mengajukan Thiago Motta sebagai alternatif. Masih muda, mantan pemain timnas Italia juga, dan pernah menangani tim-tim besar seperti Bologna dan Juventus. Meski belum ada prestasi sebagai pelatih.

Namun, para petinggi federasi memberi respons dingin. Maldini pun sadar, ruang geraknya ternyata jauh lebih sempit daripada yang dijanjikan. Dari situ, muncul keputusan yang menurut orang-orang terdekatnya tak lagi bisa dihindari.

Maldini merasa istilah "otonomi" yang ditawarkan kepadanya hanyalah sebatas kata-kata tanpa makna nyata. Ia menilai tidak ada gunanya tetap bekerja dalam lingkungan yang membatasi kewenangan. Dan tidak benar-benar membuka ruang bagi perubahan.

Kepergian Maldini dari FIGC hanya dalam 17 hari tidak bisa dipandang sebagai aksi ngambek atau mogok. Masih menurut Corriere della Serra, mantan kapten AC Milan itu disebut merasa "ditikam dari belakang", setelah rangkaian polemik beberapa hari terakhir.

Ia dan Leonardo awalnya menerima tawaran menjadi direktur teknis sepak bola Italia dengan penuh antusiasme. Keduanya percaya mendapat dukungan penuh dari seluruh elemen federasi untuk membangun proyek olahraga jangka panjang.

Sejak awal menerima jabatan, Maldini meyakini bahwa pemilihan pelatih akan menjadi keputusan bersama antara dirinya dan pimpinan federasi. Ia menganggap komitmen tersebut sebagai janji yang tidak dapat ditarik kembali.

"Dan ketika ia merasa tidak lagi mendapatkan otonomi penuh, Maldini memilih pergi. Ia tidak ingin sekadar menjadi simbol tanpa memiliki kekuasaan untuk menjalankan visi sepak bolanya," ungkap sumber yang dekat dengannya.

Keputusan meninggalkan federasi diikuti Leonardo tanpa banyak perdebatan. Mantan direktur Paris Saint-Germain tersebut sejak awal berdiri di sisi Maldini. Ia memilih mundur bersama rekannya daripada menjadi penengah di tengah konflik internal federasi. (Wartabanjar.com)