Ia tampil sebagai pengatur ritme permainan yang luar biasa di lini tengah Atlas Lions, terutama saat berhadapan dengan tim-tim kuat seperti Brasil dan Belanda.
Statistiknya berbicara banyak: Dia menjadi penembak keempat terbaik di turnamen dengan 12 tekel sukses.
Dalam laga melawan Belanda, ia menyelesaikan 135 operan dengan akurasi 97 persen, memenangkan enam duel, dan melakukan empat tekel.
Secara keseluruhan, ia mencatatkan 156 sentuhan bola dan 134 operan sukses dari 138 percobaan, menunjukkan tingkat akurasi yang nyaris sempurna (97 persen).
Angka-angka ini jauh melampaui lawan langsungnya di lini tengah Belanda, Ryan Gravenberch, yang hanya mencatat 18 operan dengan akurasi 75 persen, sebelum ditarik keluar.
El Aynaoui baru bergabung dengan AS Roma pada musim panas 2025 dari RC Lens dengan nilai transfer 23,5 juta paun plus tambahan.
Di musim pertamanya di Serie A, ia mencatatkan 34 penampilan kompetitif dengan sumbangan dua gol dan dua assist.
Meski demikian, menurut laporan TEAMtalk, menit bermainnya di Roma masih terbatas dan kurang dari yang diharapkan.
Hal ini menjadi celah bagi klub-klub Premier League yang meyakini, mereka bisa menawarkan peran yang lebih sentral bagi pemain yang dijuluki sebagai gelandang modern, dengan kemampuan bertahan, atletis, dan komposur luar biasa.
Nilai pasarnya saat ini diperkirakan sekitar 22,3 juta paun menurut Football Transfers, namun Roma dipastikan akan meminta harga jauh lebih tinggi untuk pemain yang sedang memasuki puncak kariernya, dan memiliki kontrak hingga 2030.







