Adapun proses penetapan awal Zulhijah dilakukan dengan mengintegrasikan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).
Kedua pendekatan ini, ditegaskan Cecep, saling melengkapi sehingga menghasilkan keputusan yang komprehensif.
Sebelumnya, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin memprediksi pelaksanaan Hari Raya Idul Adha 2026 berlangsung serentak.
“Insya Allah Idul Adha 1447 H seragam,” kata Thomas Djamaluddin kepada wartawan di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Dijelaskan oleh Thomas Djamaluddin, saat prosesi rukyatul hilal, posisi hilal atau bulan saat Magrib sudah cukup tinggi di seluruh Indonesia dan hampir seluruh dunia.
Berdasarkan perhitungan astronomi, kriteria penetapan awal Zulhijah, baik Muhammadiyah, pemerintah, maupun Arab Saudi, diperkirakan sama-sama terpenuhi.
“Maka, KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal yang digunakan Muhammadiyah) sama dengan Ummul Quro (Arab Saudi) juga sama dengan MABIMS (kesepakatan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura yang digunakan pemerintah), awal Zulhijah 1447 pada 18 Mei 2026 dan Idul Adha 27 Mei 2026,” ujarnya.
Apa itu sidang isbat:
Kata isbat berasal dari kata bahasa Arab yang artinya menetapkan.
Sementara dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata isbat berarti penetapan atau penentuan.
Istilah sidang isbat ini merujuk pada sidang yang diselenggarakan untuk menetapkan awal bulan dalam kalender Hijriah, termasuk awal puasa serta lebaran Idul Fitri dann Idul Adha. (Wartabanjar.com/dwisud)







