“Pola baru itu yang kami sebut dengan hybrid, hybrid learning. Jadi mereka belajar itu, kuliah itu tidak harus hadir ke kampus. Mereka bisa hadir ujian dan lain-lain itu melalui fasilitas daring. Nah, itu kan memudahkan sehingga kekhawatiran Pemerintah Daerah kan biasanya kalau guru itu kuliah lalu meninggalkan tugas, nah terjadi kekosongan mengajar,” jelas Prof. Ahmad.
Bahkan, ia memberikan bukti nyata keberhasilan pola ini di daerah tetangga yang mampu mencetak lulusan S2 dalam waktu singkat namun tetap berstandar internasional.
“Kita bisa melahirkan S2 itu dengan waktu cuma satu tahun setengah, tiga semester mereka sudah wisuda. Model itu ternyata tidak menurunkan kualitas mereka. Karya ilmiah mereka itu bahkan karya ilmiah tingkat internasional, ada yang tembus Scopus Q2 yang sudah memenuhi syarat untuk jadi Profesor di Perguruan Tinggi,” pungkasnya meyakinkan. (Wartabanjar.com/Gazali)
Editor: Yayu







