WARTABANJAR.COM - Siapa penggemar sepak bola nasional yang tidak kenal Persipura Jayapura, siapa pula yang tidak kenal PSBS Biak?

Siapa yang meragukan kehebatan Boaz Solossa, Ellie Eboy, Rully Nere, Eduard Ivakdalam, Aples Tecuari, Adolf Kabo, dan masih banyak lagi mantan pemain Timnas Indonesia dari Papua?

Namun, simbol kehebatan Papua di kancah persepakbolaan Indonesia itu kini seakan meredup, dengan ketiadaan tim dari Papua di kompetisi kasta tertinggi sepak bola: Liga 1.

Baca Juga: Tak Ada Tiket Away untuk Bobotoh di Laga Persija vs Persib di Samarinda

Persipura gagal promosi dari Liga 2, setelah dihentikan oleh Adhyaksa FC dalam laga playoff.

Meski bermain di kendang sendiri, Stadion Lukas Enembe, Jayapura, tim berjuluk Mutiara Hitam itu dihempaskan oleh gol semata wayang bomber Adhyaksa FC, Adilson Silva.

Persipura harus mengakui keunggulan Adhyaksa FC dengan skor 0-1.

Sementara PSBS Biak menjadi satu di antara tiga tim yang degradasi dari Liga 1 ke Liga 2.

Tragisnya lagi, dalam kondisi terpuruk itu, PSBS Biak juga diterpa masalah internal yang serius soal gaji pemain.

Para pemain sempat mengancam mogok bertanding bila tunggakan gaji mereka tidak segera dibayar.

Ketiadaan wakil di Liga 1 musim mendatang memperlihatkan beratnya perjuangan klub sepak bola dari Papua.

Kompetisi modern menuntut kekuatan finansial besar, fasilitas memadai, kedalaman skuad, dan sistem pengelolaan profesional.

Banyak klub di Indonesia kini disokong perusahaan besar atau pemilik modal kuat, sementara sebagian klub Papua masih menghadapi tantangan infrastruktur dan logistik yang tidak ringan.

Faktor geografis juga tidak bisa diabaikan. Biaya perjalanan yang tinggi, membuat klub Papua harus mengeluarkan anggaran lebih besar dibanding klub lain, di Pulau Jawa atau Sumatera.

Dalam jangka panjang, kondisi ini memengaruhi kekuatan finansial klub, terutama untuk mempertahankan pemain berkualitas.

Selain itu, pembinaan pemain usia muda di Papua juga dinilai mulai kehilangan arah.