WARTABANJAR.COM, BANJARBARU- Risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan saat ini masih tergolong rendah, meski suhu udara mulai meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi masih terjadinya hujan di sejumlah wilayah.
“Memang kita rasakan suhu udara cukup panas, namun masih terjadi hujan. Jadi risiko karhutla masih relatif rendah,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan pantauan satelit BMKG, terjadi kenaikan suhu permukaan, namun kondisi lahan, khususnya gambut, masih tergolong aman karena kadar airnya cukup.
“Selama tinggi muka air masih dalam batas perendaman, lahan gambut masih basah sehingga potensi karhutla dapat dihindari,” jelas Ronny.
Saat ini, tinggi muka air di sejumlah wilayah berkisar antara 40 sentimeter hingga 1,5 meter.
BPBD Kalsel juga terus melakukan patroli rutin di kawasan gambut yang rawan terbakar untuk memantau kondisi tersebut.
“Kalau nanti tinggi muka air mulai turun, kami akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai untuk pembukaan pintu air,” lanjutnya.
Sementara itu, kejadian karhutla di daerah ini disebut masih dalam skala kecil dan dapat ditangani oleh tim di tingkat kabupaten/kota.
“Masih skala kecil dan bisa ditangani oleh kawan-kawan di daerah,” ungkapnya.
Meski demikian, BPBD Kalsel memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi dalam waktu dekat.







