Seiring waktu, pengalaman Hidayatullah di dunia trail run terus bertambah.
Ia telah menjajal berbagai jalur di Kalsel, mulai dari Gunung Halau-Halau, Gunung Hauk, hingga Tahura Sultan Adam.
Tak hanya di Kalimantan, ia juga pernah berlari di sejumlah gunung di luar daerah, seperti Gunung Lawu, Merbabu, Prau, hingga Gunung Bawakaraeng di Sulawesi Selatan.
Salah satu pengalaman paling menantang yang pernah ia rasakan adalah saat mengikuti Trail Mates Race di Tahura Sultan Adam Mandiangin.
“Waktu itu ambil kategori 35 kilometer dengan elevasi lebih dari 2.000 meter. Start pukul 01.30 dini hari dan Alhamdulillah bisa finish sekitar tujuh jam lebih,” kenangnya.
Catatan waktu tersebut menjadi pencapaian tersendiri baginya, mengingat di medan lain dengan jarak serupa biasanya ia membutuhkan waktu hingga 10–12 jam.
Lebih dari sekadar olahraga, Hidayatullah melihat trail run sebagai sarana untuk mengkampanyekan pentingnya menjaga lingkungan, khususnya di kawasan Pegunungan Meratus.
“Kalau alam rusak, jalur kita juga ikut rusak. Jadi trail run ini juga bisa jadi cara mengajak orang peduli lingkungan,” ujarnya.
Ia bahkan kerap menyisipkan kegiatan penanaman pohon di jalur-jalur tertentu bersama rekan komunitasnya.
Saat ini, ia juga tergabung dalam komunitas Trail Runners Meratus, yang terbuka bagi siapa saja yang ingin mencoba olahraga tersebut.
Bagi pemula, ia menyarankan untuk memulai dari jalur pendek dan mempersiapkan perlengkapan dengan baik.
“Mulai dari jalur ringan dulu, pelajari teknik, dan kalau bisa gabung komunitas supaya lebih aman dan konsisten,” pesannya.
Menurutnya, pengalaman menjelajahi berbagai jalur di Pegunungan Meratus juga membuka pandangannya tentang besarnya potensi alam yang dimiliki daerah tersebut.
“Setiap jalur punya karakteristik tersendiri. Ini bisa jadi daya tarik wisata kalau dikelola dengan baik,” pungkasnya. (wartabanjar.com/Adew)
Editor: Yayu







