Menanggapi tuntutan warga tersebut, Rahmat memberikan penjelasan mengenai birokrasi pembangunan.
“Perbaikan jalan tetap kita prioritaskan, tetapi dilakukan bertahap sesuai prosedur yang ada. InsyaAllah, semua masukan akan kita tindak lanjuti,” jelasnya tegas.
Suasana semakin cair saat para pengunjung yang sedang berwisata menyadari kehadiran pemimpin mereka.
Tanpa sekat protokoler yang kaku, warga silih berganti mendekat untuk bersalaman hingga berswafoto.
Momen ini pun dimanfaatkan sebagian pengunjung untuk membisikkan aspirasi langsung kepada Bupati.
Kehadiran Hj. Dian Rahmat di sisi sang suami menambah kesan hangat dan humanis dalam agenda informal tersebut.
Langkah ini seolah menjadi antitesis dari gaya kepemimpinan kaku, membuktikan bahwa transparansi dan serap aspirasi bisa dilakukan di mana saja, termasuk di atas pasir pantai.
Potret malam itu menunjukkan bahwa di era digital, seorang pemimpin dituntut sigap merespons keluhan rakyat, baik melalui jabat tangan nyata maupun interaksi di layar kaca. (Wartabanjar.com/Gazali)
Editor: Yayu







