Keputusan itu menuai polemik karena diambil beberapa waktu setelah pertandingan berakhir, sehingga memicu reaksi keras dari Senegal. Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) bahkan telah mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) untuk membatalkan keputusan tersebut.
Di tengah proses hukum yang masih berjalan, Senegal memilih menunjukkan sikap tegas dengan tetap merayakan trofi yang mereka menangkan di lapangan. Bahkan dalam laga uji coba tersebut, Senegal tetap tampil fokus dan berhasil mengalahkan Peru dengan skor 2-0.
Situasi ini menegaskan bahwa sengketa gelar Piala Afrika 2025 belum sepenuhnya selesai. Hasil akhir kini bergantung pada putusan CAS yang akan menentukan siapa pemilik sah trofi tersebut.
Langkah Senegal memamerkan trofi bukan sekadar seremoni, tetapi juga pesan kuat kepada dunia bahwa mereka tidak menerima begitu saja keputusan administratif yang dinilai merugikan. Di sisi lain, polemik ini juga menjadi sorotan besar terhadap tata kelola sepak bola Afrika, khususnya dalam penegakan regulasi dan transparansi keputusan. (Wartabanjar.com/berbagai sumber)
Editor: Andi Akbar







