Film “Kuyank” sendiri merupakan karya produksi Dari Hati Films (DHF) yang mengangkat kisah urban legend Kalimantan Selatan tentang sosok “kuyang” makhluk dalam cerita rakyat yang dikenal menyeramkan.
Disutradarai oleh Johansyah Jumberan, sineas asal Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), film ini masih berada dalam semesta “Saranjana: Kota Gaib”, dengan latar cerita tujuh tahun sebelum peristiwa film sebelumnya.
Kisahnya berpusat pada konflik rumah tangga yang dipenuhi tekanan adat dan keinginan memiliki keturunan, hingga membawa tokohnya terjerumus dalam praktik ilmu kuyang yang menebar teror.
Menariknya, Sekretaris Daerah HST, Muhammad Yani, juga turut ambil bagian dalam film ini. Ia berperan sebagai Kepala Desa. Keterlibatannya berawal dari proyek film “Saranjana” yang lebih dulu digarap.
Kesuksesan pemutaran “Kuyank” pun memunculkan harapan baru. Masyarakat mulai membayangkan kehadiran bioskop permanen di HST.
“Ke depan tentu kami berharap ada ruang atau gedung khusus pertunjukan di HST, baik untuk kesenian, budaya, musik, maupun film,” kata Rizqan.
Meski demikian, untuk produksi film skala besar di daerah masih menjadi rencana jangka panjang. Namun, semangat untuk terus berkarya tetap digaungkan.
“Kami mendorong para penggiat film lokal untuk terus menghasilkan karya, terutama film pendek yang mengangkat budaya, kesenian, dan potensi pariwisata di daerah,” tambahnya.
Sejauh ini, sejumlah film pendek karya anak muda HST telah lahir, di antaranya “Radin Pangantin”, “Terlalu Berisik”, dan “Tiwikrama”.







