Sejumlah wilayah di Kotawaringin Timur yang tergolong rawan antara lain Sungai Mentaya, Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit, Seranau, Pulau Hanaut, dan Kota Besi.
Mayoritas kejadian terjadi saat warga beraktivitas di sungai, seperti mandi, mencuci, mencari ikan, hingga berwudu, terutama pada waktu subuh atau malam hari.
Pola kemunculan buaya kini juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya lebih sering muncul pada musim tertentu, kini buaya dapat muncul kapan saja dan semakin dekat dengan permukiman warga, bahkan hingga ke parit dan area belakang rumah.
Faktor Pemicu
Meningkatnya konflik antara manusia dan buaya diduga dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya kerusakan habitat, berkurangnya sumber pakan alami, serta meningkatnya aktivitas manusia di kawasan sungai.
Analisis Tren
Secara umum, tren konflik pada periode 2010–2020 relatif stabil. Namun, sempat terjadi lonjakan pada 2020 dan kembali meningkat pada periode 2024 hingga 2025, dengan intensitas kemunculan yang semakin sering.
Kejadian yang dialami Marliansyah menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih waspada saat beraktivitas di sekitar sungai, terutama di wilayah yang diketahui sebagai habitat buaya.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad






