“Ekspektasi bahwa bank sentral seperti Federal Reserve akan menahan suku bunga tinggi membuat instrumen seperti obligasi menjadi lebih menarik dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil,” jelas Yusuf.
Penguatan dolar AS juga turut menekan harga emas. Karena emas diperdagangkan dalam dolar, kenaikan nilai mata uang tersebut membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor global, sehingga permintaan melemah.
Investor Beralih ke Dolar dan Obligasi
Yusuf menambahkan, pola investasi saat ini mulai berubah. Jika sebelumnya emas menjadi tujuan utama saat krisis, kini investor cenderung beralih ke dolar AS dan obligasi pemerintah AS.
“Permintaan terhadap emas menjadi lebih terfragmentasi. Investor kini memiliki lebih banyak pilihan aset safe haven,” ujarnya.
Ke depan, pergerakan harga emas sangat bergantung pada arah suku bunga dan perkembangan geopolitik. Jika inflasi mereda dan suku bunga mulai turun, harga emas berpotensi kembali menguat.
Namun, jika konflik global semakin meluas dan berdampak ke sektor riil seperti energi dan perdagangan, maka emas bisa kembali diburu sebagai aset lindung nilai.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad







