Tujuh Perempuan dari Tatah Barikin Curi Perhatian di Lomba Bagarakan Sahur HST, Grup Acuan Raih Juara 3
WARTABANJAR.COM, BARABAI– Di tengah gemuruh tabuhan alat musik tradisional pada Lomba Bagarakan Sahur tingkat Kabupaten Hulu Sungai Tengah, satu penampilan mendadak mencuri perhatian penonton.
Bukan karena alat musiknya paling besar atau kostumnya paling mencolok, melainkan karena para pemainnya.
Grup itu bernama Acuan, tim bagarakan sahur yang seluruh anggotanya perempuan dan rata-rata masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
Kelompok asal Desa Tatah Barikin ini tampil penuh percaya diri di hadapan ratusan penonton dalam lomba yang digelar di Taman Dwi Warna Barabai, Rabu (11/3/2026) malam.
Meski baru pertama kali mengikuti lomba bagarakan sahur, penampilan mereka justru berhasil mencuri perhatian dan mengantarkan tim Acuan meraih juara 3.
Salah satu anggota tim, Yulanda Saputri, mengaku tidak menyangka penampilan mereka bisa membawa pulang juara pada kesempatan pertama tersebut.
“Senang dan bahagia sekali karena ini pertama kalinya ikut lomba bagarakan sahur, tapi bisa mendapatkan juara,” ujarnya.
Menurut Yulanda, keikutsertaan mereka berawal dari rasa penasaran sekaligus keinginan untuk mencoba sesuatu yang berbeda.
Selama ini bagarakan sahur identik dimainkan oleh laki-laki, sementara perempuan jarang terlihat tampil dalam kelompok perkusi tradisional tersebut.
“Kami ingin mencoba apakah perempuan juga bisa ikut bagarakan sahur seperti laki-laki, sekaligus melatih mental tampil di depan masyarakat,” katanya.
Dalam penampilannya, tim Acuan memanfaatkan berbagai benda sederhana sebagai alat musik perkusi.
Galon air, ember, katuk, drum hingga taso dipadukan menjadi irama yang kompak dan ritmis untuk membangunkan warga sahur.
Proses pembuatan alat musik tersebut memakan waktu sekitar tujuh hari.
Karena seluruh anggota tim perempuan, pembuatan peralatan juga dibantu oleh orang tua masing-masing.
Setelah alat selesai dibuat, tim Acuan menjalani latihan intensif selama sekitar 11 hari sejak pengumuman lomba oleh pemerintah daerah.
Latihan dilakukan untuk menyusun irama yang harmonis namun tetap mempertahankan karakter khas bagarakan sahur.
“Konsepnya tetap untuk membangunkan orang sahur, tapi dengan musik yang harmonis supaya orang yang tidur benar-benar bangun,” jelas Yulanda.