”Para mahasiswa tersebut menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Mesir, serta di wilayah Hadhramaut, Yaman,” tambahnya.
Selain mahasiswa penerima beasiswa dari pemerintah daerah, Sarwani juga menyebutkan terdapat sejumlah mahasiswa asal Banjar lainnya yang menempuh pendidikan di Timur Tengah secara mandiri.
Ia menilai perlu adanya mekanisme koordinasi yang jelas untuk memantau perkembangan para mahasiswa tersebut.
“Harus ada tim terpadu yang menjadi satu pintu komunikasi untuk memantau perkembangan anak didik kita di sana,” jelasnya.
Sarwani menambahkan, berdasarkan informasi terakhir dari Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Kabupaten Banjar, kondisi mahasiswa asal Banjar yang berada di Timur Tengah hingga saat ini masih dalam keadaan aman.
Meski demikian, ia menilai langkah antisipasi tetap perlu dilakukan dengan menjalin komunikasi dan koordinasi melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di negara tempat para mahasiswa tersebut menempuh pendidikan.
“Dengan kondisi yang tidak menentu ini, tentu tidak ada salahnya kita mengambil langkah-langkah antisipasi untuk keselamatan mereka,” pungkasnya. (wartabanjar.com/IKhsan)
Editor Restu







