WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan sejumlah takjil yang mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, dan pewarna tekstil rhodamin B saat melakukan pengawasan pangan selama Ramadan 2026.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar memimpin langsung inspeksi pangan di salah satu pasar takjil di wilayah Panakkukang, Makassar, Kamis (5/3/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari intensifikasi pengawasan pangan menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
BPOM melakukan pengawasan terhadap 1.350 pedagang takjil di 298 lokasi di berbagai daerah di Indonesia.
“Melalui metode rapid test kit, petugas menguji 2.888 sampel makanan dan menemukan 48 sampel atau sekitar 1,66 persen yang positif mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, dan pewarna tekstil rhodamin B,” ujar Taruna Ikrar.
Dari hasil pengujian tersebut, formalin paling banyak ditemukan pada mi kuning basah dan tahu di sejumlah wilayah seperti Tangerang dan Surabaya.
Sementara itu, pewarna tekstil rhodamin B ditemukan pada beberapa produk seperti sirup, es cendol, dan kerupuk di berbagai daerah mulai dari Jakarta hingga Ambon.
Meski jumlahnya lebih sedikit dibandingkan rhodamin B, boraks juga masih ditemukan dalam beberapa jenis pangan, di antaranya mi kuning dan lontong di sejumlah daerah seperti Padang, Jakarta, Denpasar, hingga Ambon.
Hasil Pengawasan di Sulawesi Selatan
Khusus di wilayah Sulawesi Selatan, Balai Besar POM di Makassar melakukan uji sampel terhadap pedagang takjil di Jalan Boulevard, Panakkukang.
Hasil pengujian menunjukkan seluruh sampel takjil yang diuji di lokasi tersebut memenuhi syarat dan dinyatakan aman untuk dikonsumsi.
Namun, pengawasan terhadap 20 sarana peredaran pangan di wilayah Sulawesi Selatan menunjukkan 11 di antaranya tidak memenuhi ketentuan.







