Revolusi Pendidikan di Era AI, Pemkab HST Perkuat Karakter Siswa Lewat Rakor Ratusan Guru PAI
WARTABANJAR.COM, BARABAI – Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) melalui Dinas Pendidikan menggelar rapat koordinasi (rakor) Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Kabupaten HST di Aula Bapperida, Rabu (18/02/2026). Kegiatan strategis ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat pendidikan karakter siswa di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Rakor yang diikuti ratusan guru PAI tersebut merupakan bentuk komitmen Pemkab HST dalam menjaga keseimbangan antara kecerdasan digital dan penguatan nilai spiritual serta akhlak generasi muda.
Kepala Dinas Pendidikan HST, Muhammad Anhar, menegaskan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan besar akibat laju perkembangan teknologi yang sangat cepat, bahkan melampaui kemampuan rata-rata manusia.
Ia memaparkan, berdasarkan data nasional, tingkat kecerdasan teknologi AI saat ini berada pada angka 135. Sementara itu, rata-rata IQ manusia berada di angka 120, dengan capaian Indonesia berkisar antara 80 hingga 100.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan agar tidak hanya berfokus pada peningkatan akademik, tetapi juga memperkuat pembinaan karakter, disiplin ibadah, dan adab peserta didik. Ia menambahkan bahwa penilaian karakter kini menjadi perhatian penting agar generasi HST tidak hanya unggul dalam penguasaan teknologi, tetapi juga kokoh secara spiritual.
Wakil Bupati HST, Gusti Rosyadi Elmi, dalam arahannya menekankan pentingnya sinergi antara sekolah dan orang tua dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.
Ia mengingatkan bahwa pembiasaan merupakan kunci utama dalam pendidikan karakter. Mengutip ajaran Rasulullah SAW, orang tua dianjurkan membiasakan anak melaksanakan shalat sejak usia tujuh tahun sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.
Menurutnya, guru memiliki peran strategis sebagai penghubung antara sekolah dan keluarga untuk memastikan pendidikan karakter berjalan selaras. Tantangan moral di era digital, lanjutnya, tidak cukup diatasi melalui pendekatan akademik semata, tetapi juga memerlukan penguatan spiritual.
Ia juga menegaskan bahwa doa yang disertai penghayatan memiliki kekuatan besar, karena perubahan sejati datang atas izin Allah SWT.