Miftah menyebutkan bahwa PCINU Jerman sendiri menggunakan metode hisab kontemporer Nautical Almanac 2026 yang dipadukan dengan rukyatul hilal pada akhir bulan.
Perbedaan metode inilah yang kerap memicu perbedaan awal puasa di Jerman.
“Iya betul, karena perbedaan metode tadi, akhirnya ada perbedaan 1 hari dari tiap-tiap komunitas dalam mengawali ibadah puasa dan merayakan hari raya,” tambahnya.
Terkait adanya komunitas yang memulai puasa lebih awal, Miftah memberikan catatan mengenai kemungkinan penggunaan metode kalender global sebagai acuan sehingga berbeda dengan PCINU.
“Kemungkinan yang mengawali puasa di Jerman tanggal 18 Februari adalah yang menggunakan metode kalender hijriah global,” pungkasnya. (Wartabanjar.com/NU Online)
Editor Restu







