“Keluarga Tionghoa khususnya di Tanah Laut menyambut kegembiraan ini,” katanya dengan nada penuh syukur.
Bagi komunitas Tionghoa, momen ini adalah bentuk kemandirian dalam melestarikan warisan leluhur di tanah kelahiran.
“Mengadakan perayaan sendiri yang akan ini dikembangkan di Tanah Laut,” tambah Hani.
Antusiasme warga yang membludak di sepanjang jalan protokol Pelaihari menunjukkan bahwa Barongsai memiliki daya tarik universal.
Hani menyoroti pemandangan unik di lapangan, di mana para pemain musik instrumen ternyata berasal dari latar belakang beragam.
“Kalau diperhatikan ya, beberapa pemain yang ikut lewat di instrumen Barongsai ini bukan hanya etnis Tionghoa saja,” ungkapnya.
Baginya, keterlibatan berbagai kalangan ini menunjukkan adanya kerinduan kolektif akan hiburan rakyat yang menyatukan.
“Kelihatannya ada beberapa yang memang membawa itu kerinduannya,” jelas Hani lagi.
Ke depan, Hani memastikan bahwa atraksi Barongsai ini akan menjadi agenda rutin yang terorganisir dengan baik.
“Rencana tiap tahun kita akan ada. Jadi memang ada kepengurusan yang sudah dibentuk di Tanah Laut,” tegasnya.
Langkah ini diambil agar warga Tionghoa di Bumi Tuntung Pandang memiliki ruang berekspresi yang setara.
“Agar supaya warga Tionghoa yang ada di Tanah Laut ini mereka juga bisa eksis seperti etnis-etnis yang lainnya,” sambung Hani.
Di penghujung wawancara, Hani menitipkan pesan mendalam tentang harmoni sosial dan proses pembauran antar warga.







