WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menegaskan pentingnya konsep maskulinitas positif untuk melindungi anak laki-laki dari kekerasan dan stigma sosial. Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menyampaikan bahwa anak laki-laki juga membutuhkan ruang aman untuk mengekspresikan emosi, mencari bantuan, dan mendapatkan pendampingan psikologis.
Data SIMFONI-PPA mencatat lebih dari 6.000 anak laki-laki menjadi korban kekerasan berbasis gender sepanjang 2025. Sementara Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menunjukkan prevalensi kekerasan seksual terhadap anak laki-laki mencapai 8,34 persen, hampir setara dengan anak perempuan.
“Stigma yang menuntut laki-laki selalu kuat justru membebani mereka. Anak laki-laki berhak merasa sedih, takut, dan mendapatkan dukungan,” ujar Menteri PPPA dalam kegiatan Boys Training & Capacity Building di Jakarta.
Kemen PPPA mendorong sekolah menjadi ruang aman dan inklusif, dengan guru BK berperan aktif mendampingi siswa. Menteri PPPA juga mengapresiasi program Boys Initiative: Breaking the Silence dari Youth Group ECPAT Indonesia yang fokus membongkar stigma maskulinitas dan melindungi anak laki-laki dari kekerasan serta eksploitasi seksual.
Program ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah untuk menciptakan generasi muda yang sehat secara mental, setara, dan siap berkontribusi bagi pembangunan bangsa. (Wartabanjar.com/berbagai sumber)
Editor: Andi Akbar
