“Saya menyampaikan secara umum sebagai motivasi, bukan mengejek siapa pun,” tegasnya.
Upaya mediasi sempat dilakukan dengan melibatkan pihak sekolah, forum komunikasi kecamatan, kepolisian, serta Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Namun, mediasi tidak mencapai kesepakatan. Siswa meminta Agus meminta maaf, sementara Agus meminta perubahan sikap siswa atau petisi jika tidak menginginkannya mengajar lagi.
Situasi memanas setelah mediasi. Agus mengaku saat berjalan menuju ruang guru, ia justru dikeroyok oleh sejumlah siswa.
Alami Luka dan Laporkan ke Polisi
Akibat pengeroyokan tersebut, Agus mengalami memar di beberapa bagian tubuh, termasuk pipi, tangan, dan punggung. Ia juga mengaku mengalami tekanan psikis akibat video kejadian yang viral dan mencoreng nama baiknya.
Didampingi kakaknya, Nasir, Agus resmi melaporkan dugaan pengeroyokan ke Polda Jambi pada Kamis malam (15/1). Ia menjalani pemeriksaan selama kurang lebih lima jam dan telah melakukan visum.
“Secara mental adik saya terganggu. Nama baiknya rusak karena viral. Kami menempuh jalur hukum agar ada keadilan,” kata Nasir.
Respons Pemerintah dan Aparat
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan bahwa kasus tersebut telah ditangani oleh dinas pendidikan setempat bersama pihak terkait. Sementara itu, Polres Tanjung Jabung Timur menegaskan masih mendalami kasus tersebut guna memperoleh gambaran utuh kejadian.
Kapolres Tanjung Jabung Timur AKBP Ade Chandra menyayangkan insiden tersebut dan menyebutnya sebagai peristiwa yang mencoreng dunia pendidikan. Namun, dalam salah satu agenda mediasi lanjutan, Agus diketahui tidak hadir.
