“Kalau suara rakyat dipindahkan ke ruang sidang, lalu di mana posisi kami sebagai pemilik kedaulatan?” teriak salah satu orator, disambut sorak dukungan massa.
Dari Jalanan untuk Masa Depan Demokrasi
Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan pengingat. Bahwa demokrasi tidak boleh berjalan diam-diam, tanpa partisipasi publik. Bahwa setiap kebijakan yang menyentuh hak rakyat harus lahir dari suara rakyat itu sendiri.
Di tengah terik matahari Banjarmasin, mahasiswa kembali berdiri, bukan untuk mencari sorotan, tetapi untuk menjaga hak yang mereka yakini.
Karena bagi mereka, demokrasi bukan hanya tentang memilih, tetapi tentang mempertahankan hak untuk tetap didengar.(Wartabanjar.com/Iqnatius)
editor: nur_muhammad







