Seluruh jamu tersebut diolah sendiri di rumah dengan bahan-bahan segar yang dibeli langsung dari pasar. Proses pembuatannya dilakukan secara sederhana, mulai dari pengolahan bahan hingga pencampuran racikan sesuai takaran yang telah ia kuasai selama puluhan tahun.
Saat ini, segelas jamu gendong racikan Sikam dijual dengan harga Rp3.000. Ia mengakui jumlah pembeli tidak selalu stabil, karena dipengaruhi minat masyarakat serta fluktuasi harga bahan baku jamu di pasaran.
Meski harus berjalan kaki sambil menggendong dagangan dan menghadapi tantangan usia, Sikam tetap bertahan menjalani profesinya. Baginya, jamu gendong bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga bentuk komitmen menjaga warisan budaya kesehatan tradisional agar tidak hilang ditelan zaman.
Di usia 58 tahun, Sikam Mutami menjadi salah satu sosok penting dalam menjaga eksistensi jamu gendong di Barabai, sekaligus menjadi inspirasi ketekunan dan kecintaan pada tradisi lokal.(wartabanjar.com/Adew)
editor: nur_muhammad







