WARTABANJAR.COM, BARABAI – Di tengah gempuran minuman modern, jamu tradisional tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Barabai. Salah satu buktinya adalah keberadaan Sikam Mutami (58), penjual jamu gendong yang konsisten mempertahankan usaha jamu tradisional sejak 1984.

Setiap hari, Sikam tampak berkeliling membawa bakul jamu, berjualan di kawasan Lapangan Dwi Warna Barabai pada pagi hari, lalu melanjutkan ke pasar setempat pada siang hingga sore. Aktivitas ini telah ia jalani selama puluhan tahun sebagai sumber penghidupan utama keluarganya.

Dalam sehari, Sikam menawarkan beragam jenis jamu tradisional racikan sendiri, mulai dari janar, sirih, beras kencur, kunyit asam, sambiloto, hingga jahe gula habang. Tak hanya itu, ia juga menyediakan bacem sebagai pelengkap bagi para pelanggan setianya.

Dari sekian banyak racikan, beberapa jenis jamu menjadi favorit dan paling sering diburu pembeli. Jamu campur, kunyit asam, sirih, serta beras kencur disebut sebagai menu paling laris.

“Janar dan sirih biasanya diminum untuk bau badan dan sakit perut. Beras kencur untuk perut kembung dan masuk angin. Kunyit asam banyak diminati perempuan untuk mengurangi keluhan haid. Kalau sambiloto, biasanya dibeli orang yang sudah tua,” ungkap Sikam, Senin (5/1/2026).

Seluruh jamu tersebut diolah sendiri di rumah dengan bahan-bahan segar yang dibeli langsung dari pasar. Proses pembuatannya dilakukan secara sederhana, mulai dari pengolahan bahan hingga pencampuran racikan sesuai takaran yang telah ia kuasai selama puluhan tahun.

Saat ini, segelas jamu gendong racikan Sikam dijual dengan harga Rp3.000. Ia mengakui jumlah pembeli tidak selalu stabil, karena dipengaruhi minat masyarakat serta fluktuasi harga bahan baku jamu di pasaran.

Meski harus berjalan kaki sambil menggendong dagangan dan menghadapi tantangan usia, Sikam tetap bertahan menjalani profesinya. Baginya, jamu gendong bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga bentuk komitmen menjaga warisan budaya kesehatan tradisional agar tidak hilang ditelan zaman.