Menghadapi ancaman tersebut, Europol menegaskan bahwa penegakan hukum harus berevolusi secara radikal. Polisi masa depan tidak hanya memburu pelaku manusia, tetapi juga dituntut mampu menyelidiki niat di balik tindakan mesin otonom.
Sebagai contoh, aparat harus menentukan apakah kecelakaan mobil tanpa pengemudi terjadi akibat serangan siber terencana atau murni karena malfungsi sistem. Untuk itu, polisi diprediksi akan dibekali teknologi futuristik, mulai dari jaring anti-drone, senjata pembeku robot, hingga alat pelumpuh sistem AI otonom.
Europol mencatat, tanda-tanda bahaya sebenarnya sudah muncul saat ini. Penggunaan drone otonom di zona konflik terus meningkat, sementara teknologi serupa mulai merembes ke kejahatan terorganisir dan jaringan terorisme.
Aktivitas drone mencurigakan di sekitar infrastruktur vital Eropa dilaporkan semakin sering terjadi. Bahkan, muncul individu yang secara terbuka menawarkan jasa pilot drone ilegal melalui platform daring.
Peringatan Keras Europol
Direktur Eksekutif Europol, Catherine De Bolle, menegaskan bahwa integrasi sistem tanpa awak ke dunia kriminal bukan ancaman masa depan, melainkan sudah berlangsung saat ini.
“Kita harus bertanya pada diri sendiri bagaimana penjahat dan teroris akan memanfaatkan drone dan robot dalam beberapa tahun ke depan,” tegasnya.
Ia menyamakan revolusi teknologi ini dengan kemunculan internet dan ponsel pintar, yang membuka peluang besar sekaligus menghadirkan tantangan serius bagi keamanan global.
Senada, ahli robotika University of Kent, Giovanni Luca Masala, menegaskan satu kepastian.
“Suka atau tidak, penjahat akan selalu menggunakan teknologi terbaru yang tersedia,” ujarnya, seraya mengakui bahwa memprediksi kondisi dunia pada 2035 tetap penuh ketidakpastian karena laju perkembangan teknologi yang sangat cepat.(wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad







