Di sisi lain, muncul juga suara yang menilai kemarahan seharusnya ditujukan kepada manajemen, bukan kepada karyawan yang hanya menjalankan kebijakan perusahaan. Sebagian warganet menyarankan solusi sederhana, seperti membantu transaksi menggunakan QRIS milik kasir atau pelanggan lain sebagai bentuk empati.
Isu ini pun berkembang lebih jauh hingga disebut-sebut berujung pada somasi terhadap manajemen Roti O. Publik mendesak agar kebijakan pembayaran ditinjau ulang, terutama untuk memastikan akses yang adil bagi semua kalangan, termasuk lansia dan masyarakat yang belum terbiasa dengan sistem pembayaran digital.
Peristiwa ini kembali memunculkan diskusi luas soal batasan penerapan cashless di ruang publik. Di tengah dorongan modernisasi sistem pembayaran, banyak pihak mengingatkan pentingnya menjaga prinsip dasar jual beli serta menghormati keberadaan uang tunai sebagai alat pembayaran yang sah dan dilindungi undang-undang.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad







