Selain bangunan rumah, barang-barang rumah tangga warga juga banyak yang rusak.
Perabot pecah belah seperti piring dan gelas dilaporkan hancur akibat hujan dan reruntuhan atap.
“Waktu itu kami tidak mikir barang apa-apa, yang penting orang tua, istri, dan anak-anak selamat. Setelah atap hilang, kami hanya bisa pasrah,” ungkapnya.
Warga lainnya, Sanawiah, mengaku panik dan langsung mengungsi ke rumah keluarganya di seberang sungai menggunakan kelotok.
Ia sempat melihat kabel listrik yang putus mengeluarkan percikan api sebelum akhirnya aliran listrik dipadamkan.
“Saya sempat lihat anginnya berputar, warnanya putih kehitaman. Tali listrik putus dan sempat berapi,” katanya.
Sementara itu, Adi Rahman, warga yang rumahnya hampir rusak seluruhnya, bersyukur tidak berada di rumah saat kejadian.
Ia bersama istri dan dua anaknya sedang berada di rumah keluarga.
“Alhamdulillah kami tidak ada di rumah. Kalau ada, saya tidak bisa membayangkan. Sekarang sementara kami tinggal di rumah orang tua,” ucapnya, berharap adanya bantuan dari pemerintah.
Hingga saat ini, BPBD HST bersama Tagana dan unsur terkait masih melakukan pendataan lanjutan di lapangan.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah, serta segera melaporkan kepada BPBD apabila terjadi kejadian serupa. (wartabanjar.com/Adew)
Editor: Yayu







