WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Luluk Nur Hamidah, memberikan peringatan keras terkait rencana perluasan perkebunan kelapa sawit di wilayah Papua yang dinilai dapat memicu bencana ekologis. Ia menekankan bahwa konversi lahan hutan menjadi perkebunan monokultur secara masif berisiko merusak ekosistem unik yang selama ini menjadi paru-paru dunia.
Peringatan ini muncul menyusul adanya kekhawatiran mengenai hilangnya hak-hak masyarakat adat dan kerusakan keanekaragaman hayati di Bumi Cendrawasih. Luluk menilai bahwa pembangunan di Papua seharusnya mengedepankan prinsip keberlanjutan dan menghormati tatanan sosial serta kearifan lokal yang sudah ada sejak turun-temurun.
Dampak buruk yang diprediksi muncul akibat ekspansi sawit yang tidak terkendali meliputi ancaman kekeringan, hilangnya sumber pangan lokal, hingga potensi konflik sosial. Luluk mengingatkan bahwa tanpa kajian lingkungan yang mendalam, proyek ini justru bisa menjadi petaka jangka panjang bagi masyarakat Papua.
PKB juga mendorong pemerintah untuk mengevaluasi kembali izin-izin konsesi lahan yang sudah diberikan di wilayah sensitif lingkungan. Pemerintah diminta untuk lebih kreatif dalam mencari alternatif ekonomi hijau yang lebih ramah lingkungan daripada hanya mengandalkan sektor perkebunan sawit yang eksploitatif.
Papua memiliki karakteristik hutan primer yang sangat berbeda dengan wilayah lain di Indonesia, sehingga penanganannya pun harus dilakukan secara khusus. Hilangnya hutan Papua tidak hanya menjadi kerugian bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia internasional dalam upaya menghadapi krisis iklim global yang semakin nyata.
