“Sehingga para pelaku hubungan sesama jenis berani mengekspresikan identitas mereka yang sulit ditampilkan di ruang publik,” ucap Herman.
Media sosial ini menjadi ruang aman untuk berbagi pengalaman tanpa takut stigma secara langsung, karena media sosial ini dapat memberikan kemudahan untuk membentuk komunitas berbasis minat atau identitas, termasuk juga orientasi seksual.
Terlebih lagi, kata Herman, media sosial saat ini tidak ada filter budaya atau agama yang kuat, dan memiliki nilai global yang masuk tanpa adaptasi.
“Tentu ini bisa lebih fatal, karena media sosial ini seolah-olah memiliki sistem norma dunia maya parsial yang sering berbeda dari norma dan nilai di kehidupan nyata,” pungkasnya. (Iqnatius/wartabanjar.com)
Editor: Yayu







