Ia menjelaskan, komunitas offroad dikenal cepat bergerak saat bencana terjadi, bahkan kerap lebih dulu tiba di lokasi-lokasi sulit dijangkau.
“Sasaran kami biasanya justru daerah dengan akses paling berat. Dengan kendaraan yang dimiliki, teman-teman offroad bisa langsung bergerak dan berkoordinasi dengan kantor SAR daerah maupun BPBD setempat,” jelasnya.
Tunggul menambahkan, aktivitas offroad tidak hanya sebatas hobi atau kompetisi. Kendaraan yang dimodifikasi untuk medan ekstrem telah lama dimanfaatkan untuk kepentingan kemanusiaan, sebuah tradisi yang berlangsung sejak tragedi tsunami Aceh.
“Sejak tsunami Aceh, IOF sudah banyak terlibat menembus daerah tersulit. Karena itu, TNI AL, TNI AD, dan instansi lainnya juga kerap meminta bantuan IOF untuk menjangkau wilayah yang tidak bisa dilalui kendaraan biasa,” ungkapnya.
Aksi Tim 6×6 Xtrim Indonesia di Aceh Tamiang menjadi bukti nyata bahwa komunitas offroad memiliki peran strategis dalam penanganan bencana, khususnya dalam membuka akses dan memastikan bantuan dapat sampai ke wilayah-wilayah terisolasi.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad







