WARTABANJAR.COM, ACEH – Sebuah pemandangan mengiris hati terjadi di lokasi longsor Aceh. Seorang suami terus mengumandangkan azan di titik terakhir istrinya terlihat sebelum tertimbun material longsor. Bukan untuk memanggil waktu salat, tetapi sebagai seruan penuh harapan agar sang istri kembali.
Setiap hari ia berdiri di titik yang sama. Tatapannya tertuju pada tumpukan tanah bercampur reruntuhan, lalu lantunan azan menggema dengan suara bergetar. Usai azan, ia memanjatkan doa lalu memanggil pelan, seakan istrinya bisa mendengar panggilannya dari balik tanah.
“Sayang… keluar dari sana. Ayo pulang ketemu aku,” ucapnya lirih, membuat siapa pun yang menyaksikan ikut menahan air mata.
Sudah delapan hari pencarian berlangsung, namun korban belum juga ditemukan. Meski demikian, pria tersebut tidak pernah meninggalkan lokasi bencana. Ia terus menunggu, dengan cinta dan kesetiaan sebagai satu-satunya pegangan di tengah situasi yang masih tidak pasti.
Momen mengadukan rindu di lokasi longsor itu terekam kamera warga dan tersebar luas di media sosial. Respons netizen pun dipenuhi keharuan. Banyak yang ikut mendoakan dan berharap musibah ini menemukan titik terang, apa pun hasilnya.
Komentar warganet dipenuhi doa:
“Ya Allah Ya Rabb…”
“Semoga segera ditemukan, dalam keadaan apapun.”
“Air mata saya netes sendiri.”
“Ya Allah, pertemukanlah kembali dengan istrinya…”
Sebagian netizen bahkan mengutip kalimat haru dari pria tersebut: “Bagaimana aku bisa ikhlas sementara aku tidak bisa melihat wajah istriku untuk terakhir kalinya.”(Wartabanjar.com/nur_muhammad)

