WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN — Setelah sekian lama gelap dan tak berfungsi, air mancur Jembatan Pasar Lama akhirnya kembali memancarkan warna-warni cahaya di atas Sungai Martapura. Kembalinya atraksi malam yang sempat jadi sorotan publik ini disambut antusias warga yang menikmati suasana akhir pekan yang lebih hidup.
Namun di balik euforia itu, muncul catatan kritis dari Pengamat Tata Kota ULM, Dr. Eng Akbar Rahman, yang sejak awal mengaku tidak sepenuhnya sepakat dengan pembangunan air mancur yang menelan anggaran sekitar Rp11 miliar tersebut.
“Sudah Telanjur Jadi Aset, Minimal Harus Difungsikan dan Dirawat”
Akbar menilai nilai proyek yang besar seharusnya sebanding dengan manfaat. Meski demikian, ia mengapresiasi keputusan pemerintah untuk menghidupkannya kembali dibanding membiarkannya mangkrak.
“Biayanya besar, manfaatnya kecil. Tapi karena ini sudah menjadi aset kota, menghidupkannya lagi adalah langkah yang tetap positif. Lebih baik difungsikan daripada menjadi proyek sia-sia,” ujarnya.
Meski pertunjukan cahaya mempercantik kawasan, ia menyebut dampaknya terhadap kunjungan wisata masih jauh dari harapan.
“Kadang tetap sepi pada jam tertentu. Efeknya belum sesuai ekspektasi,” katanya.
Perlu Konsep Lebih Kreatif dan Pengelolaan Profesional
Agar tidak mengulang masalah lama, Akbar menekankan tiga langkah utama yang wajib dilakukan Pemkot:
Perawatan disiplin dan terjadwal.
Pengelolaan profesional, termasuk kerja sama dengan event rutin dan penyelenggara kegiatan.
Optimalisasi kawasan, mulai dari menghadirkan UMKM, kuliner, hingga aktivitas masyarakat.
“Air mancur jangan hanya jadi dekorasi mahal. Harus masuk ke strategi besar revitalisasi kawasan,” tegasnya.







