Ia juga mengurai bahwa program standarisasi dai MUI biasanya diikuti oleh mereka yang benar-benar memiliki panggilan pribadi untuk berdakwah. Sementara sebagian pendakwah yang berasal dari lingkungan pesantren atau keluarga kiai kerap merasa tidak perlu mengikuti proses standarisasi karena sudah terbiasa mewarisi tradisi dakwah orang tua.
“Yang ikut standarisasi biasanya mereka yang secara pribadi punya panggilan berdakwah. Tapi anak-anak kiai jarang mau ikut proses begini, karena merasa otomatis mengikuti orang tuanya. Nah mungkin ini salah satu faktor yang terjadi,” terangnya.
Pernyataan MUI ini menambah sorotan publik terhadap perlunya penguatan etika dakwah dan perlindungan terhadap anak dalam setiap aktivitas keagamaan.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur muhammad






