Peristiwa ambruknya atap terjadi pada Selasa (11/11). Ruang kelas yang rubuh itu tampak kosong tanpa meja kursi. Menurut Disdikbud, cuaca berangin kencang menjadi penyebab utama kerusakan.
“Atap itu roboh karena angin kencang, dan pihak sekolah sudah melaporkan kondisi cuaca saat kejadian,” jelas Buyung.
Ruang kelas tersebut sebenarnya sudah diajukan untuk revitalisasi sejak tahun lalu, tetapi pengajuan belum bisa diproses karena ada persyaratan yang belum lengkap. Disdikbud memastikan ruang tersebut kemungkinan besar akan masuk daftar perbaikan tahun ini mengingat kerusakannya makin parah.
Dalam video yang viral, potongan seng dan lembaran kalsiboard tampak berserakan di lantai. Guru terdengar menyebut plafon “nyaris menimpa siswa” dan mendesak pemerintah kabupaten segera turun tangan—narasi yang kemudian ia revisi setelah klarifikasi.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur muhammad







