Krisis di Langit Amerika: Bos Maskapai Desak Gedung Putih Akhiri Shutdown yang Lumpuhkan Penerbangan!

WARTABANJAR.COM, WASHINGTON DC – Situasi di Amerika Serikat kian genting! Dua raksasa penerbangan negeri itu—CEO United Airlines Scott Kirby dan CEO American Airlines Robert Isom, “mengetuk pintu Gedung Putih” untuk menekan pemerintah mengakhiri krisis penutupan (shutdown) yang telah melumpuhkan sektor transportasi udara selama 30 hari penuh.

Pertemuan darurat di Istana Kepresidenan AS ini akan mempertemukan kedua bos maskapai dengan Wakil Presiden JD Vance, Menteri Perhubungan Sean Duffy, CEO Airlines for America Chris Sununu, serta Presiden Air Line Pilots Association Jason Ambrosi. Tujuannya hanya satu: menyelamatkan industri penerbangan Amerika dari kehancuran operasional akibat lumpuhnya sistem pemerintahan.

Menurut laporan Reuters, lebih dari 63.000 petugas pengatur lalu lintas udara (ATC) dan TSA kini bekerja tanpa gaji, memicu gelombang ketidakhadiran dan penundaan penerbangan besar-besaran. Data terbaru menunjukkan, pada 26–27 Oktober 2025, keterlambatan penerbangan melonjak hingga 44 persen, padahal biasanya hanya sekitar 5 persen per hari sebelum shutdown dimulai.

“Kami sudah berada di titik kritis,” ujar Sean Duffy, Menteri Perhubungan AS. “Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya jadwal penerbangan yang terganggu—keselamatan penumpang pun dipertaruhkan.”

Sementara itu, ratusan pengatur lalu lintas udara dikabarkan terpaksa mencari pekerjaan tambahan untuk menutup kebutuhan hidup setelah gaji mereka tertahan sejak 28 Oktober. Di berbagai bandara besar, maskapai dan organisasi sosial bahu-membahu menyalurkan bantuan makanan bagi petugas TSA dan pekerja federal yang terdampak.

Krisis ini juga mengungkap kekurangan parah tenaga kerja FAA, yang kini defisit 3.500 pengatur lalu lintas udara dari target ideal. Bahkan sebelum shutdown dimulai, banyak petugas sudah dipaksa lembur enam hari seminggu.

Shutdown terlama dalam sejarah AS sebelumnya terjadi pada 2019, yang akhirnya berakhir setelah absensi massal dari petugas bandara memaksa pemerintah kembali beroperasi. Kini, banyak pihak khawatir sejarah kelam itu akan terulang—namun kali ini dengan risiko lebih besar bagi keselamatan penerbangan dan ekonomi nasional.

“Kami tidak bisa terus membiarkan langit Amerika jadi korban politik,” tegas Scott Kirby. “Setiap hari shutdown berlangsung, keamanan penerbangan dan kepercayaan publik semakin runtuh.”