WARTABANJAR.COM – Di tengah hiruk pikuk Kota Nanjing, Tiongkok, berdiri seorang pria sederhana yang telah menjadi cahaya bagi ratusan jiwa di ambang keputusasaan. Namanya Chen Si, pria yang selama lebih dari dua dekade menghabiskan setiap akhir pekannya di Jembatan Sungai Yangtze, jembatan terbesar dan tersibuk di negeri itu.
Sejak tahun 2003, Chen menjadikan jembatan itu sebagai tempat pengabdian sunyi — bukan untuk bekerja, melainkan untuk menyelamatkan nyawa.
Selama 21 tahun, ia telah menyelamatkan hampir 500 orang yang hendak mengakhiri hidupnya. Tanpa jabatan, tanpa uang, Chen hanya bermodalkan empati dan kebaikan hati yang tulus.
Chen tidak berteriak. Ia mendengarkan.
Ia tidak menghakimi. Ia mengulurkan tangan.
Setiap kali melihat seseorang berdiri sendiri di tepi jembatan, ia mendekat perlahan, lalu berkata lembut,
“Ceritakan padaku apa yang membuatmu terluka. Mari kita cari jalan lain.”







